INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2010
INDUSTRI KACA LEMBARAN
Industri kaca merupakan salah satu industri di Indonesia yang cukup disegani karena memiliki pemain global yang mampu berasing dipasar ekspor. Meskipun tidak terlalu ekspansif, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, industri masih terus berkembang. Kapasitas dan produksinya meningkat, bahkan ketika terjadi krisis finansial yang mempengaruhi permintaan pasar kaca dunia.
Efisiensi dari integrasi ke hulu pada beberapa pemain dan tingkat teknologi yang masih unggul membuat ekspor tetap bisa dipertahankan. Sementara itu, kuatnya pasar dalam negeri yang permintaannya didorong sektor properti dan otomotif menjadi alasan mengapa industri ini mampu bertahan dan masih berkembang.
Namun, industri ini bukan tidak menghadapi masalah. Kenaikan tarif dasar listrik, pasokan gas yang belum terjamin dalam jangka panjang, gempuran produk impor, serta proteksi di pasar ekspor adalah sederetan masalah yang dihadapi industri ini.
Kebijakan penerapan SNI untuk produk kaca lembaran yang mulai diberlakukan tahun ini cukup menolong pasar domestik dari gempuran produk non standar yang berpotensi merusak pasar.
Kapasitas masih berkembang
Industri kaca nasional mulai dibangun sejak awal tahun 1970 yang merupakan industri hulu kaca yang memproduksi bahan baku kaca. Industri hulu dikembangkan hingga awal tahun akhir tahun 1980.
Jumlah perusahaan terus bertambah, namun sebagian besar merupakan pemain industri hilir yang mengolah kaca lembaran setengah jadi menjadi produk akhir.
Produk industri kaca meliputi kaca lembaran, kaca pengaman, kaca cermin, fiber glass, dan kaca lainnya. Kaca lembaran merupakan produk setengah jadi yang diolah menjadi berbagai produk yakni kaca bening (clear float glass), kaca berwarna (tinted float glass), online reflective glass, patterned glass, dan cermin (mirror).
Kapasitas industri ini meningkat pada tahun 2008 sebesar hampir 10 persen dari 2,3 juta ton per tahun menjadi 2,5 juta ton per tahun. Peningkatan kapasitas terjadi pada industri kaca lembaran yakni dari 1,33 juta ton per tahun menjadi 1,55 juta ton per tahun.
Kaca lembaran merupakan produk unggulan yang kapasitasnya paling besar dibandingkan produk kaca lainnya. Produk ini sebagian besar digunakan untuk jendela bangunan dan penggunaan lainnya di sektor properti. Bersama dengan kaca pengaman yang banyak digunakan sebagai kaca otomotif, kedua produk ini memiliki pasar yang cukup bagus saat ini baik ekspor maupun domestik.
Penguasaan teknologi produksi kaca oleh industri kaca di Indonesia tergolong tinggi terutama untuk produk kaca otomotif. Negara kompetitor seperti China belum memiliki tingkat teknologi sebaik Indonesia.
Pengembangan kapasitas masih memungkinkan mengikuti perkembangan permintaan kaca baik domestik maupun ekspor. Indonesia memiliki cadangan bahan baku cukup besar. Sekitar 80 persen bahan baku kaca adalah dari pasir khusus yang banyak terdapat di Indonesia, sedangkan sisanya adalah bahan campuran yaitu soda ash (abu soda) masih diimpor dari Jepang.
Produsen kaca
Industri kaca di Indonesia masih di dominasi oleh beberapa pemain besar yang selama ini menguasai pangsa pasar kaca, baik kaca lembaran, kaca pengaman dan lain-lain. Terdapat tiga produsen kaca Indonesia terbesar di Indonesia untuk tingkat hulu atau yang memproduksi bahan awal pembuatan kaca diantara PT Asahimas Glass Tbk, PT Mulia, dan PT Tossa Shakti.
PT Asahimas Flat Glass Tbk dan PT Mulia Glass adalah beberapa produsen kaca utama di Indonesia yang memproduksi berbagai jenis kaca. Sementara itu, produsen tingkat hilir atau pembuatan kaca jumlahnya sekitar 30 pemain.
Asahimas Flat Glass dan Mulia Glass, produsen utama
PT Asahimas Flat Glass Tbk
PT Asahimas Flat Glass Tbk merupakan Perusahaan Modal Asing (PMA) yang berdiri pada tahun 1971, dan merupakan bagian dari Asahi Glass Co.Ltd, yang merupakan salah satu produsen kaca terbesar di dunia.
Kapasitas produksi PT Asahimas Flatt Glass saat ini adalah sebesar 570.000 ton per tahun untuk kaca datar, 4,5 juta m3 kaca pengaman dan 2,4 juta m3 untuk kaca cermin. Dengan kapasitas sebesar ini Asahimas merupakan salah satu industri kaca terbesar di Asia Tenggara.
PT Mulia Glass
PT Mulia Glass dan PT Mulia Keramik Indah Raya,merupakan anak perusahaan dari PT Mulia Industrindo Tbk yang berdiri pada 5 November 1986. PT Mulia Glass sendiri didirikan pada tahun 1989 dan memproduksi berbagai jenis kaca antara lain Float glass, glass container, safety glass dan glass block.
Produksi float glass Mulia Glass telah diekspor ke lebih dari 50 negara, dan volumenya ekspornya telah mencapai 65% dari total produksinya. Sementara itu produksi yang lain yaitu glass container lebih banyak dipasarkan untuk kebutuhan domestik sebagai kemasan consumer goods dan industri obat-obatan.
Saat ini Mulia Glass memproduksi float glass sebanyak 612.500 ton/ tahun, kemudian glass container 140.000 ton per tahun, glass blok 45.000 ton per tahun dan safety glass 120.000 set.
PT Tossa Shakti
PT Tossa Shakti didirikan pada tahun 1984. Pemain ini memproduksi kaca bening (float glass) dengan kapasitas 900 metrik ton/ hari, dan kaca berwarna (tinted float glass) yakni hijau, biru, dan kuning dengan kapasitas 70 metrik ton/ hari. Kapasitas tanurnya mencapai 70 ton per hari.
Mesin produksi Tossa menggunakan beberapa teknologi dari sejumlah provider berbeda. Teknologi raw material system, electronic batching system, automatically menggunakan teknologi Siemens PLC, sementara teknologi tanur dan forming-nya dari China. Proses annealing mengunakan mesin Bottero (Italia), dan Rurex (Jerman), serta CNUD (Belgia).
Produksi terus meningkat
Industri kaca di Indonesia adalah salah satu industri yang mampu terus berkembang bahkan di saat krisis. Hal ini terlihat dari tingkat produksi yang tersu tumbuh dalam dua tahun terakhir yakni saat perekonomian dunia sedang lesu dan sektor properti juga terkena dampaknya.
Produksi kaca pada tahun 2007 sebesar 1,84 juta ton. Produksi ini meningkat 2,6 persen dari tahun 2006. Dua tahun berikutnya produksi masih terus meningkat. Pada tahun 2008 produksi melonjak mencapai 2,07 juta ton atau terjadi pertumbuhan cukup tinggi yakni 12,8 persen. Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2009 meskipun lebih kecil yakni 2 persen menjadi 2,12 juta ton....